al-Hallaj Mengaku Tuhan? Pelajaran dari K.H Hamir Hamid Aly

Siang itu di kelas, semilir angin berhembus melalui celah-celah jendela yang terbuat dari rangkaian alumunium, Saya sedang mengikuti mata pelajaran Akidah dan Akhlak yang diajarkan oleh K.H Hamir Hamid Aly. Hari itu pembahasan mata pelajaran akidah adalah Teori Emanasi Al-Farabi, singkatnya, Emanasi ialah teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Zat yang mesti adanya; Tuhan). Teori emanasi disebut juga dengan nama “teori urut-urutan wujud”. Menurut al-Farabi, Tuhan adalah pikiran yang bukan berupa benda.[1]

Pembahasan mengenai ini mirip-mirip dengan pembahasan Wahdatul-Wujud oleh al-Hallaj, Saya tahu tentang al-Hallaj setelah saya mengulik-ngulik Ensiklopedia Islam di Perpustakaan Pesantren . Al-Hallaj menyebut dirinya sebagai Tuhan, ana al-haq, perkataan yang membuatnya di hukum mati dikemudian hari. Sebaga seseorang yang baru saja membaca beyond the Inspiration-nya felix siauw, hukuman al-Hallaj itu tentu saja wajar bagi saya. Bisa-bisanya dia mengaku sebagai Tuhan. Namun saya penasaran dengan tulisan lanjutan di ensiklopedia itu, para filsuf beberapa dekade kemudian menyangkan eksekusi mati al-Hallaj, bahkan mereka berharap al-Hallaj hidup di jaman mereka.

anal haqq

Saya terpikir, kebetulan pembahasan mata pelajaran kali ini berkaitan dengan itu, bagaimana kalau saya tanyakan langsung kepada kiai, barangkali ada jawaban yang bisa mengisi dahaga saya yang haus akan ilmu filsafat ini. Saya maju kedepan, menyetor buku tulis berisi resume pelajaran hari ini sambil bertanya mengenai wahdatul wujud, bagaimana mungkin al-Hallaj mengatakan dirinya adalah al-Haqq. K.H Hamir Hamid Aly tidak beranjak dari kursinya. Ia memberikan saya sebuah pertanyaan, “Apakah salah jika kayu yang terbakar mengatakan dirinya api?”. Saya diam dan berpikir, iya juga yah. Dia melanjutkan “Jika sebuah besi diletakkan ditungku yang penuh api hingga sang besi merah dan meleleh, apakah salah jika dia mengakui dirinya api?”. Dalam hati saya kembali bergumam “iyyadi”. Pak Kiai memberikan saya rekomendasi bacaan di perpustakaan, saya lupa judulnya apa. Saya undur diri dan kembali ke bangku saya. Saya mendapatkan pertanyaan yang menjawab rasa penasaran saya. Al-Hallaj adalah seorang sufi yang sangat tekun beribadah. Dalam ibadahnya yang khusyu’ ia sering mengungkapkan rasa Syathahat, yaitu ungkapan-ungkapan yang kedengarannya ganjil. Hal itu terjadi ketika ia tenggelam dalam Fana, suatu tingkatan kerohanian ketika kesadaran tentang segala sesuatu sirna kecuali hanya kesadaran tentang Allah SWT. Dari sinilah muncul ungkapan An al-Haq – yang oleh Al-Hallaj ditafsirkan bahwa  “Aku berada di dalam Dzat Allah.”[2]

Pelajaran-pelajaran dari K.H. Hamir Hamid Aly membuka cakrawala berpikir saya. Mungkin saja ada perspekti-perspektif berbeda yang belum kita temukan jawabannya. Sama seperti kisah al-Hallaj, Kita tidak boleh menghakimi seseorang karena pikirannya, barangkali bukan dia yang salah, tapi pikiran kita saja yang belum sampai disitu.

 

[1] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 92

[2] https://www.sufiz.com/jejak-sufi/al-hallaj-sufi-yang-disalib-dan-dibakar-bagian-1.html (diakses pada 6 Februari 2019)

Iklan

Aku, kau dan genangan air itu.

Genangan air dijalanan itu abadi, airnya merembes dari bukit, melewati sisa-sisa rumput yang kering di musim kemarau, kemudian bermuara pada kenangan. Setiap orang di kampus hijau menaruh ceritanya disitu, termasuk kita. Kita? Ya! kau dan aku. 2 orang yang berbeda. Aku pembicara, kau pendengarnya. Aku pemakan banyak sedang kau kubantu menghabiskan makanan sisamu. Aku fals, tapi selalu bangga bisa mendengar suara emasmu. Aku dan kau, kita beda, tapi saling melengkapi. Setidaknya itu adalah argumenku tentang kita. Kau bagaimana?

 

Genangan air itu menjengkelkan, motorku baru saja kubersihkan dengan sisa-sisa shampo tadi pagi. Tapi menemanimu adalah prioritas dari segalanya, satu dua gim kulewatkan, rasa capai ini kuminggirkan, supaya diri ini bisa menjemput dan membagi kebahagiaan. Menghabiskan waktu dengan senyum manismu, Seketika genangan air tak ada apa-apanya.

Genangan air itu referensiku menjalin hubungan denganmu, abadi, tak peduli musim kemarau atau hujan, ia selalu ada. Tak peduli kau susah mencari waktu atau diriku yang sibuk, hati kita selalu bersama. Aku tak ingin kau hari ini menjadi kau yang beda besok. Kau yang hari ini berbagi kasih denganku, besok berbagi kasih dengan yang lain. Kau yang hari ini menyemangatiku dengan simpul senyummu, menyemangati orang lain dengan cara yang sama, kau yang hari ini leluasa kuucapakan selamat pagi dan selamat tidur besok tak bisa lagi karena ada yang melarang. Aku takutttt sekali itu terjadi.Aku tak akan membiarkan itu terjadi.

Genangan air itu adalah bentuk adaptasi. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, demikian hukum fisika berlaku. Aku ingin kita seperti genangan air itu, sama-sama beradaptasi. Menjadi lebih baik, saling menyemangati, saling mengasihi, dan saling-saling lain yang tak sempat kuucapkan satu persatu.

Setiap orang punya ceritanya masing-masing bukan? Biarkan aku menceritakan tentang dia, seseorang yang selalu disampingku dalam suka dan duka.

Ingin kupastikan keberadaan kita seperti genangan air itu. Nyata. Bukan fatamorgana. Tapi jika bagimu keberadaan kita seperti sisi lain genangan air itu, menggangu, mengotori, bikin emosi. Maka katakanlah. Aku serius! Main-main bagiku hanya pada saat bermain mobile legend mode brawl Vs Ai. Teruntuk kamu yang selalu ada. Terimakasih🙏🏻

Makassar, 16 September 2018

Ali, Ghadir Khum dan Suksesor yang Tidak Gila Jabatan

Aku kagum sekali pada sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah. Bukan, bukan karena beliau menantu Nabi Saw, bukan pula karena beliau cerdas, pintar dsb. Aku mengaggumi beliau karena tidak gila jabatan dan kebesaran hatinya meninggalkan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan umum.•

Aku ingat satu hadits penting yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, saat itu Nabi Saw memberhentikan rombongannya yang sedang pulang dari haji wada’ di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum, , dia mengumpulkan semua orang dan mengambil tangan Ali, kemudian dia mengulangi apa yang dikatakannya, “Barangsiapa yang menganggap saya mawla-nya (Pelindung/pemimpin/etc), maka Ali adalah mawla-nya.” Kemudian dia juga menambahkan dengan do’a : “Ya Allah, jadikan teman orang-orang yang menjadi temannya, dan jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya.” Dan keluhan-keluhan terhadap Ali akhirnya berhenti. pemakna hadits ini sebenarnya sangat kontroversi di kalangan ahlusunnah maupun syi’ah, namun yang pasti hadits tersebut punya riwayat yang shahih baik dikalangan ahlusunnah maupun syi’ah. Dibalik kontroversi tersebut, hadits ini paling tidak menunjukkan bahwa Nabi pernah menunjuk langsung Ali sebagai Mawla, yang bisa jadi adalah penerus kepemimpinan politik Nabi Muhammad.

 Sejarah tidak semulus itu, setelah Nabi Wafat, Ali dan keluarga Nabi Saw sibuk mengurus jenazah beliau. Hingar bingar politik pun bermunculan. Banyak kelompok yang ingin memisahkan diri. Kaum anshor pun berinisiatif membuat forum sendiri untuk mencari suksesor Nabi Saw. Para sahabat yang mendengar kabar itu langsung mendatangi pertemuan itu di saqifah bani saidah tersebut. 
 Terjadilah perdebatan sengit yang tiada ujung. Jika ditinggalkan bisa jadi kaum anshor mengangkat khalifah sendiri dan Muhajirin mengangkat khalifah sendiri, setelah negosiasi yang alot maka ditunjuklah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah. Beliau langsung dibai’at pada saat itu juga. 
Bukan, bukan ali yang sudah disebut oleh Nabi sebagai mawla di ghadir khum yang menjadi Khilafah, tapi sosok lain. Nyatanya Ali yang sudah tahu hal tersebut juga tetap membai’at Abu Bakar -meski butuh beberapa bulan- dengan penuh keikhlasan bahkan beliau ikut menjadi salah satu penasihat khalifaturrasulullah ketika menentukan kebijakan. 

Apakah orang-orang pada saat itu tuli atau buta sehingga mengabaikan hak ali? Tentu tidak. Tapi mereka juga tahu yang disebut dengan kemaslahatan, apa yang lebih baik itu yang diikuti, bukan apa yang lebih baik dari personnya tapi apa yang lebih baik untuk kepentingan bersama …ketabahan Ali juga membuktikan bahwa jabatan bukanlah hal yang utama, tapi niat tulus untuk membangun ummatlah yang lebih penting.

Wallahu’alam bisshowab.

PEMILIHAN PALING DEMOKRATIS YANG PERNAH ADA

Saya pernah mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS 3 tahun lalu, tepatnya ketika saya masih kelas 1 SMA. Saya tentu kalah karena saya memang tidak pernah berambisi jadi ketua osis, kenalan dengan adek kelas juga kurang. Saya hanya ingin merasakan pengalaman menjadi paslon. Walhasil, saya mengambil banyak pelajaran dari Pemilihan yang -menurut saya- paling demokratis itu. 

Dalam pemilihan ketua OSIS (lebih sering disebut ISPIM) tersebut tidak ada partai atau organisasi yang membeking, murni usaha sendiri. Meski sederhana, pengajuan calonnya tidak sembarang. Pengajuan itu dimusyawarahkan dulu dalam rapat angkatan -mengenai siapa yang mau mencalonkan- untuk selanjutnya diserahkan ke pihak pimpinan kampus. Pimpinan kampuslah yang berhak menentukan kelayakan bakal calon tersebut. Pemilihnya adalah seluruh santri dari kelas 7 sampai 11.

Singkat cerita, nama saya dan teman saya ibrahim akhiranya resmi menjadi pasangan calon ketua dan wakil ketua ispim. Euphorianya tidak kalah dengan pilkada di beberapa daerah. Setiap paslon punya sebuah spanduk yang berisikan foto, nama, nomor urut, jargon dan visinya. Tahapannya pun tidak kalah seru, ada pengambilan nomor urut yang dilaksanakan secara terbuka ba’da isya, ada penyampaian visi misi sekaligus tanya jawab antara paslon dan calon pemilih, ada pemilihan secara terbuka yang diikuti semua santri -ditandai dengan absen, kalau tidak hadir dianggap sedang kabur dari pesantren-, Terkahir, penghitungan hasil suara secara terbuka di Masjid ba’da ashar yang dirangkaikan dengan pidato kemenangan paslon terpilih.

Menjelang pemilihan, kami merasa sedikit kikuk. Layaknya seorang calon kepala daerah, kami selalu berusaha melakukan pendakatan dengan adik-adik calon pemilih. Entah itu di kantin, di dapur, atau di perpustakaan kami selalu menyapa mereka, menanyakan asal daerah dan hal-hal lain yang membuat saya malu sendiri kalau mengingatnya. Namun saya sadar, elektabilitas kami yang sangat minim akan sulit naik jika hanya melakukan pendekatan basa-basi seperti itu. 

Hingga malam penyampaian visi misi pun tiba. Ratusan santri ditahan ba’da shalat isya. Mau tidak mau mereka harus mengikuti rangkaian acara ini. Spanduk yang berisikan identitas para calon pun dipasang didepan. Gemuruh para santri semakin menaikkan suhu demokrasi malam itu. Saya menahan diri bergurau dengan teman yang lain. Seraya fokus berdiskusi dengan wakil saya, menerka-nerka pertanyaan yang kira-kira muncul mengenai visi, misi, dan program kami. Didepan kami para calon lain lebih dulu memaparkan visi, misi, dan programnya. Hingga nama dan nomor urut kami dipanggil kedepan. Berbicara didepan publik bukanlah hal yang terlalu sulit. Kami bisa menyampaikan visi, misi, program dengan jelas dan terarah. 

Tantangan sebenarnya baru bermula saat sesi tanya jawab dimulai. Beberapa senior sepertinya ingin menguji kemampuan kami. Mereka bertanya menggunakan istilah-istilah sosiologi yang rumit seperti integrasi, etnosentrisme, dan primordialisme. Sepertinya mereka tidak tahu kalau saya adalah salah satu murid kesayangan ustadz Mursyid -Guru Sosiologi kala itu-, sehingga pertanyaan seperti itu bisa saya jawab dengan mudah dan dengan istilah yang tidak kalah rumitnya. Salah seorang adik kelas pun ikut bertanya. Siapa sangka, pertanyaannya dapat membuat seisi mesjid hening. “Apakah kakak bisa bertanggung jawab didunia maupun di akhirat?” jawabnya seraya membaca secarik kertas lusuh ditangan. Saya menarik nafas sejenak, menerka-nerka diksi yang kira-kira tepat. “Tanggung jawab adalah sebuh keniscayaan”, ucap saya dengan tenang. seisi masjid kemudian hening. “Semua orang yang lahir di dunia sudah secara otomatis memegang tanggung jawab kepada Allah swt. Tanggung jawab itu diamanatkan Allah ketika kita masih dalam kandungan. Demikian pula saya. Saya tidak akan mencalonkan diri sebagai ketua ISPIM kalau saya tidak berani bertanggung jawab terhadap jabatan ini baik didunia maupun diakhirat” lanjut saya dengan lantang sembari menyembunyikan telapak tangan kiri dibelakang badan. Seisi masjid bergemuruh. Beberapa senior yang sejak tadi tidak terlalu menghitung saya terlihat mengangguk-angguk. Saya yakin sekali, cara kami memaparkan visi misi malam itu mendongkrak elektabilitas yang sebelumnya nyaris nol.

Saat penghitungan suara berlangsung, saya tidak terlalu yakin bisa menang, bukan pesimis namun karena kami memang tidak punya basis massa. Namun saat penghitungan suara dimulai, nomor urut kami sempat berkejaran dengan paslon yang nantinya bakal terpilih walaupun pada akhirnya kalah juga. Saya mendapatkan sebanyak 110 suara dari kurang lebih 700 pemilih. Sebuah pencapaian yang berada diluar dugaan saya. Hasil itu menempatkan saya diperingkat ketiga diantara semua calon. 

Seusai pemilihan, ketua OSIS terpilih harus menyusun kabinetnya. Saya ditawari menjadi ketua departemen, namun saya memilih menjadi sekretaris OSIS, beliau pun mengiyakannya. 

Menjadi Sekretaris OSIS pada akhiranya membuat saya menjadi satu-satunya santri yang dibolehkan pihak kampus membawa laptop. Saya juga menjadi satu-satunya juru kunci kantor osis kala itu. Hingga masa jabatan OSIS berakhir, kegiatan saya tidak kalah sibuk dari sekretaris daerah sekalipun. 
Pemilhan ISPIM memang telah berakhir, namun hikmah pemilihan tersebut selalu terpatri di dalam diri saya. Tidak ada saling sentimen. Seusai pemilihan kami tetaplah kawan seperti sebelumnya. Ketua OSIS menyusun kabinetnya dengan solid, beberapa ketua departemen adalah bekas lawannya dalam pemilihan. Kami bahu membahu membangun citra Ispim sebagai lembaga internal pesantren yang disegani. Meski tanpa LDK dan RAKER, teman-teman tetap bisa menyukseskan banyak kegiatan. Diakhir kepengurusan, teman-teman berinisiatif membuat taman sebagai wujud peninggalan rill dari kepungurusan kami. Saya tidak akan melupakan saat-saat itu. Ketika belum ada ambisi pribadi yang bisa merusak. Sebuah cerita yang indah dari tempat yang sangat sederhana.

Impian Saya Terwujud !

img_0926

Beberapa tahun yang lalu saat saya baru saja lulus SMP dan kakak kedua saya sedikit lagi menyelesaikan S1nya, Kakak saya bertanya, “Kalau sukses meka, mauko dibelikan apa?”, singkat saja saya Jawab, “belikan meka saja iphone”. Jujur saja, saat itu saya masih sangat polos, saya meminta iphone karena –selain karena nilai prestige dari iphone- saya tahu Iphone adalah hal yang paling mungkin untuk dibelikan oleh kakak saya dalam waktu dekat. Saking niatnya dengan permintaan tersebut, saya merekamnya. Waktu berlalu selama beberapa tahun hingga akhirnya saya bisa membeli Iphone dengan keringat sendiri, bukan melalui kakak saya. Iphone pertama saya Iphone 6s 64 GB yang kemudian saya jual kurang dari 2 bulan dan menggantinya dengan Iphone 7 Black, tapi kemudian Iphone 7 Black itu saya jual lagi hingga sekarang Iphone 7 Plus 128GB. Sementara kakak saya masih nganggur dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu bisnis orangtua.

Founding fathers kita pernah berkata, “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Pepatah bijak ini tidak jarang dikritisi oleh orang-orang  materialis. Mereka menganggap  bahwa apa yang dikatakan soekarno tersebut adalah hal yang utopis dan hanyalah angan-angan semu. Bagaimana mungkin seorang yang biasa mampu mewujudkan cita-cita yang luar biasa? Apalagi jika tidak dibarengi dengan penunjangan aspek-aspek materialis yang ada.

Faktanya, bantahan orang-orang tersebut jauh lebih utopis dibanding apa yang diungkapkan soekarno. Ada banyak kisah-kisah orang biasa yang akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Saya tidak perlu sebut soal Steve Jobs, Alibaba, atau bahkan Jokowi, kalian lebih tahu mengenai cerita mereka.

Sampai saat kakak saya ikut bisnis trading dan sudah lumayan menghasilakan, saya bertanya menyindir permintaan saya dahulu, ia lalu berkata “ndak jadijitoh ka adami iphone mu”. Buyar, saya baru sadar dahulu ketika saya menjawab pertanyaaannya, apa yang saya minta terlalu enteng dan jauh dari sebutan mimpi. Permintaan itu tidak lebih dari permintaan seorang materialis karena saya mengondisikan permintaan tersebut dengan aspek-aspek material yang saat itu saya miliki. Artinya, jika apa yang kita inginkan itu adalah hal yang mungkin terjadi saat ini maka itu bukanlah impian melainkan hanya keinginan yang belum sempat terwujudkan.

Ada sedikit penyesalan karena permintaan saya ke kakak saya dahulu ternyata sangat sepele. Padahal bisa saja saya menyebut hal terbaik yang kira-kira bisa saya miliki. Rumah mewah, misalnya. Tapi biarlah, ini menjadi pelajaran bagi saya untuk “menggantungkan cita-cita setinggi langit” karena jika tidak sampai, paling tidak kita ada di lapisan tertinggi sebelum langit.