Ali, Ghadir Khum dan Suksesor yang Tidak Gila Jabatan

Aku kagum sekali pada sosok Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah. Bukan, bukan karena beliau menantu Nabi Saw, bukan pula karena beliau cerdas, pintar dsb. Aku mengaggumi beliau karena tidak gila jabatan dan kebesaran hatinya meninggalkan kepentingan pribadi untuk kemaslahatan umum.•

Aku ingat satu hadits penting yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, saat itu Nabi Saw memberhentikan rombongannya yang sedang pulang dari haji wada’ di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum, , dia mengumpulkan semua orang dan mengambil tangan Ali, kemudian dia mengulangi apa yang dikatakannya, “Barangsiapa yang menganggap saya mawla-nya (Pelindung/pemimpin/etc), maka Ali adalah mawla-nya.” Kemudian dia juga menambahkan dengan do’a : “Ya Allah, jadikan teman orang-orang yang menjadi temannya, dan jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya.” Dan keluhan-keluhan terhadap Ali akhirnya berhenti. pemakna hadits ini sebenarnya sangat kontroversi di kalangan ahlusunnah maupun syi’ah, namun yang pasti hadits tersebut punya riwayat yang shahih baik dikalangan ahlusunnah maupun syi’ah. Dibalik kontroversi tersebut, hadits ini paling tidak menunjukkan bahwa Nabi pernah menunjuk langsung Ali sebagai Mawla, yang bisa jadi adalah penerus kepemimpinan politik Nabi Muhammad.

 Sejarah tidak semulus itu, setelah Nabi Wafat, Ali dan keluarga Nabi Saw sibuk mengurus jenazah beliau. Hingar bingar politik pun bermunculan. Banyak kelompok yang ingin memisahkan diri. Kaum anshor pun berinisiatif membuat forum sendiri untuk mencari suksesor Nabi Saw. Para sahabat yang mendengar kabar itu langsung mendatangi pertemuan itu di saqifah bani saidah tersebut. 
 Terjadilah perdebatan sengit yang tiada ujung. Jika ditinggalkan bisa jadi kaum anshor mengangkat khalifah sendiri dan Muhajirin mengangkat khalifah sendiri, setelah negosiasi yang alot maka ditunjuklah Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah. Beliau langsung dibai’at pada saat itu juga. 
Bukan, bukan ali yang sudah disebut oleh Nabi sebagai mawla di ghadir khum yang menjadi Khilafah, tapi sosok lain. Nyatanya Ali yang sudah tahu hal tersebut juga tetap membai’at Abu Bakar -meski butuh beberapa bulan- dengan penuh keikhlasan bahkan beliau ikut menjadi salah satu penasihat khalifaturrasulullah ketika menentukan kebijakan. 

Apakah orang-orang pada saat itu tuli atau buta sehingga mengabaikan hak ali? Tentu tidak. Tapi mereka juga tahu yang disebut dengan kemaslahatan, apa yang lebih baik itu yang diikuti, bukan apa yang lebih baik dari personnya tapi apa yang lebih baik untuk kepentingan bersama …ketabahan Ali juga membuktikan bahwa jabatan bukanlah hal yang utama, tapi niat tulus untuk membangun ummatlah yang lebih penting.

Wallahu’alam bisshowab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s