PEMILIHAN PALING DEMOKRATIS YANG PERNAH ADA

Saya pernah mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS 3 tahun lalu, tepatnya ketika saya masih kelas 1 SMA. Saya tentu kalah karena saya memang tidak pernah berambisi jadi ketua osis, kenalan dengan adek kelas juga kurang. Saya hanya ingin merasakan pengalaman menjadi paslon. Walhasil, saya mengambil banyak pelajaran dari Pemilihan yang -menurut saya- paling demokratis itu. 

Dalam pemilihan ketua OSIS (lebih sering disebut ISPIM) tersebut tidak ada partai atau organisasi yang membeking, murni usaha sendiri. Meski sederhana, pengajuan calonnya tidak sembarang. Pengajuan itu dimusyawarahkan dulu dalam rapat angkatan -mengenai siapa yang mau mencalonkan- untuk selanjutnya diserahkan ke pihak pimpinan kampus. Pimpinan kampuslah yang berhak menentukan kelayakan bakal calon tersebut. Pemilihnya adalah seluruh santri dari kelas 7 sampai 11.

Singkat cerita, nama saya dan teman saya ibrahim akhiranya resmi menjadi pasangan calon ketua dan wakil ketua ispim. Euphorianya tidak kalah dengan pilkada di beberapa daerah. Setiap paslon punya sebuah spanduk yang berisikan foto, nama, nomor urut, jargon dan visinya. Tahapannya pun tidak kalah seru, ada pengambilan nomor urut yang dilaksanakan secara terbuka ba’da isya, ada penyampaian visi misi sekaligus tanya jawab antara paslon dan calon pemilih, ada pemilihan secara terbuka yang diikuti semua santri -ditandai dengan absen, kalau tidak hadir dianggap sedang kabur dari pesantren-, Terkahir, penghitungan hasil suara secara terbuka di Masjid ba’da ashar yang dirangkaikan dengan pidato kemenangan paslon terpilih.

Menjelang pemilihan, kami merasa sedikit kikuk. Layaknya seorang calon kepala daerah, kami selalu berusaha melakukan pendakatan dengan adik-adik calon pemilih. Entah itu di kantin, di dapur, atau di perpustakaan kami selalu menyapa mereka, menanyakan asal daerah dan hal-hal lain yang membuat saya malu sendiri kalau mengingatnya. Namun saya sadar, elektabilitas kami yang sangat minim akan sulit naik jika hanya melakukan pendekatan basa-basi seperti itu. 

Hingga malam penyampaian visi misi pun tiba. Ratusan santri ditahan ba’da shalat isya. Mau tidak mau mereka harus mengikuti rangkaian acara ini. Spanduk yang berisikan identitas para calon pun dipasang didepan. Gemuruh para santri semakin menaikkan suhu demokrasi malam itu. Saya menahan diri bergurau dengan teman yang lain. Seraya fokus berdiskusi dengan wakil saya, menerka-nerka pertanyaan yang kira-kira muncul mengenai visi, misi, dan program kami. Didepan kami para calon lain lebih dulu memaparkan visi, misi, dan programnya. Hingga nama dan nomor urut kami dipanggil kedepan. Berbicara didepan publik bukanlah hal yang terlalu sulit. Kami bisa menyampaikan visi, misi, program dengan jelas dan terarah. 

Tantangan sebenarnya baru bermula saat sesi tanya jawab dimulai. Beberapa senior sepertinya ingin menguji kemampuan kami. Mereka bertanya menggunakan istilah-istilah sosiologi yang rumit seperti integrasi, etnosentrisme, dan primordialisme. Sepertinya mereka tidak tahu kalau saya adalah salah satu murid kesayangan ustadz Mursyid -Guru Sosiologi kala itu-, sehingga pertanyaan seperti itu bisa saya jawab dengan mudah dan dengan istilah yang tidak kalah rumitnya. Salah seorang adik kelas pun ikut bertanya. Siapa sangka, pertanyaannya dapat membuat seisi mesjid hening. “Apakah kakak bisa bertanggung jawab didunia maupun di akhirat?” jawabnya seraya membaca secarik kertas lusuh ditangan. Saya menarik nafas sejenak, menerka-nerka diksi yang kira-kira tepat. “Tanggung jawab adalah sebuh keniscayaan”, ucap saya dengan tenang. seisi masjid kemudian hening. “Semua orang yang lahir di dunia sudah secara otomatis memegang tanggung jawab kepada Allah swt. Tanggung jawab itu diamanatkan Allah ketika kita masih dalam kandungan. Demikian pula saya. Saya tidak akan mencalonkan diri sebagai ketua ISPIM kalau saya tidak berani bertanggung jawab terhadap jabatan ini baik didunia maupun diakhirat” lanjut saya dengan lantang sembari menyembunyikan telapak tangan kiri dibelakang badan. Seisi masjid bergemuruh. Beberapa senior yang sejak tadi tidak terlalu menghitung saya terlihat mengangguk-angguk. Saya yakin sekali, cara kami memaparkan visi misi malam itu mendongkrak elektabilitas yang sebelumnya nyaris nol.

Saat penghitungan suara berlangsung, saya tidak terlalu yakin bisa menang, bukan pesimis namun karena kami memang tidak punya basis massa. Namun saat penghitungan suara dimulai, nomor urut kami sempat berkejaran dengan paslon yang nantinya bakal terpilih walaupun pada akhirnya kalah juga. Saya mendapatkan sebanyak 110 suara dari kurang lebih 700 pemilih. Sebuah pencapaian yang berada diluar dugaan saya. Hasil itu menempatkan saya diperingkat ketiga diantara semua calon. 

Seusai pemilihan, ketua OSIS terpilih harus menyusun kabinetnya. Saya ditawari menjadi ketua departemen, namun saya memilih menjadi sekretaris OSIS, beliau pun mengiyakannya. 

Menjadi Sekretaris OSIS pada akhiranya membuat saya menjadi satu-satunya santri yang dibolehkan pihak kampus membawa laptop. Saya juga menjadi satu-satunya juru kunci kantor osis kala itu. Hingga masa jabatan OSIS berakhir, kegiatan saya tidak kalah sibuk dari sekretaris daerah sekalipun. 
Pemilhan ISPIM memang telah berakhir, namun hikmah pemilihan tersebut selalu terpatri di dalam diri saya. Tidak ada saling sentimen. Seusai pemilihan kami tetaplah kawan seperti sebelumnya. Ketua OSIS menyusun kabinetnya dengan solid, beberapa ketua departemen adalah bekas lawannya dalam pemilihan. Kami bahu membahu membangun citra Ispim sebagai lembaga internal pesantren yang disegani. Meski tanpa LDK dan RAKER, teman-teman tetap bisa menyukseskan banyak kegiatan. Diakhir kepengurusan, teman-teman berinisiatif membuat taman sebagai wujud peninggalan rill dari kepungurusan kami. Saya tidak akan melupakan saat-saat itu. Ketika belum ada ambisi pribadi yang bisa merusak. Sebuah cerita yang indah dari tempat yang sangat sederhana.

Iklan