Impian Saya Terwujud !

img_0926

Beberapa tahun yang lalu saat saya baru saja lulus SMP dan kakak kedua saya sedikit lagi menyelesaikan S1nya, Kakak saya bertanya, “Kalau sukses meka, mauko dibelikan apa?”, singkat saja saya Jawab, “belikan meka saja iphone”. Jujur saja, saat itu saya masih sangat polos, saya meminta iphone karena –selain karena nilai prestige dari iphone- saya tahu Iphone adalah hal yang paling mungkin untuk dibelikan oleh kakak saya dalam waktu dekat. Saking niatnya dengan permintaan tersebut, saya merekamnya. Waktu berlalu selama beberapa tahun hingga akhirnya saya bisa membeli Iphone dengan keringat sendiri, bukan melalui kakak saya. Iphone pertama saya Iphone 6s 64 GB yang kemudian saya jual kurang dari 2 bulan dan menggantinya dengan Iphone 7 Black, tapi kemudian Iphone 7 Black itu saya jual lagi hingga sekarang Iphone 7 Plus 128GB. Sementara kakak saya masih nganggur dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu bisnis orangtua.

Founding fathers kita pernah berkata, “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Pepatah bijak ini tidak jarang dikritisi oleh orang-orang  materialis. Mereka menganggap  bahwa apa yang dikatakan soekarno tersebut adalah hal yang utopis dan hanyalah angan-angan semu. Bagaimana mungkin seorang yang biasa mampu mewujudkan cita-cita yang luar biasa? Apalagi jika tidak dibarengi dengan penunjangan aspek-aspek materialis yang ada.

Faktanya, bantahan orang-orang tersebut jauh lebih utopis dibanding apa yang diungkapkan soekarno. Ada banyak kisah-kisah orang biasa yang akhirnya bisa mewujudkan mimpinya. Saya tidak perlu sebut soal Steve Jobs, Alibaba, atau bahkan Jokowi, kalian lebih tahu mengenai cerita mereka.

Sampai saat kakak saya ikut bisnis trading dan sudah lumayan menghasilakan, saya bertanya menyindir permintaan saya dahulu, ia lalu berkata “ndak jadijitoh ka adami iphone mu”. Buyar, saya baru sadar dahulu ketika saya menjawab pertanyaaannya, apa yang saya minta terlalu enteng dan jauh dari sebutan mimpi. Permintaan itu tidak lebih dari permintaan seorang materialis karena saya mengondisikan permintaan tersebut dengan aspek-aspek material yang saat itu saya miliki. Artinya, jika apa yang kita inginkan itu adalah hal yang mungkin terjadi saat ini maka itu bukanlah impian melainkan hanya keinginan yang belum sempat terwujudkan.

Ada sedikit penyesalan karena permintaan saya ke kakak saya dahulu ternyata sangat sepele. Padahal bisa saja saya menyebut hal terbaik yang kira-kira bisa saya miliki. Rumah mewah, misalnya. Tapi biarlah, ini menjadi pelajaran bagi saya untuk “menggantungkan cita-cita setinggi langit” karena jika tidak sampai, paling tidak kita ada di lapisan tertinggi sebelum langit.

Iklan